Menguak misteri kematian Ketua CC PKI DN Aidit (3)

Arloji disita Kolonel Yasir, diberondong AK satu magasin

JURNAL3.com -- Semua orang tahu Ketua CC (Comitte Central) PKI, Dipa Nusantara Aidit tewas ditembak mati oleh tentara. Tapi hanya sedikit yang tahu kalau orang yang semasa hidupnya cukup dekat dengan Bung Karno itu, diakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.

Adalah Kolonel (inf) Yasir Hadibroto, komandan pasukan yang menangkap DN Aidit di Solo, yang menceritakan detik-detik tewasnya Aidit kepada Tamam Saemuri mantan Ketua Nahdlatul Ulama Kabupaten Boyolali.

Dalam sebuah pertemuan dengan Gerakan Pemuda Ansor di pendopo kabupaten November 1965, Yasir meyakinkan Tamam kalau pasukannya sudah mengeksekusi mati DN Aidit. Saat itu Kolonel Yasir memamerkan sebuah jam tangan yang dikenakannya kepada Tamam sambil berujar “Ini arlojinya Aidit�.

Kepada Tamam pula, Yasir mengisahkan kalau Aidit dieksekusi mati dengan cara diberondong senjata AK dengan menghabiskan peluru dalam satu magasin.

Namun baik Tamam maupun Yasir, tidak membuka lokasi dimana tubuh Aidit dimakamkan. Namun ada beberapa saksi yang menyebut, di sebuah lokasi sumur di belakang bangunan lama bekas kompleks markas Batalion 444 TNI Angkatan Darat di Boyolali itulah, jasad Aidit dimakamkan.
Di lokasi inilah diyakini jasad DN Aidit dimakamkan di pekarangan bekas kompleks markas Batalion 444 TNI Angkatan Darat di Boyolali. /*ist

Di lokasi inilah diyakini jasad DN Aidit dimakamkan di pekarangan bekas kompleks markas Batalion 444 TNI Angkatan Darat di Boyolali. /*ist

Tak ada batu nisan atau kijing disana. Tapi banyak yang meyakini kalau di petak halaman itu pada 1965 pernah ada sumur tua yang digunakan sebagai lokasi untuk memakamkan jenazah DN Aidit.

Namun ketika beberapa kesaksian itu coba dibuktikan, ternyata memang tak mudah untuk menegaskan kalau di lokasi itu memang dikubur jasad DN Aidit. Hal itu pernah dirasakan sendiri oleh Ilham, salah satu putra DN Aidit, yang mencoba menemukan lokasi ayahnya dikuburkan.

Tapi tak mudah menemukan lokasi sumur yang menurut cerita orang adalah makan DN Aidit. Karena saat ini, sumur itu sudah tidak tampak. Bisa jadi ada upaya untuk menghilangkan jejak kuburan Aidit oleh penguasa militer kala itu. Namun keyakinan makam itu ada di lokasi bekas Batalion 444 TNI AD, memang ada benarnya.

Di lokasi yang kini menjadi mess staf dari Komando Distrik Militer (Kodim) Kabupaten Boyolali itu, dulunya memang dikenal sebagai kesatuan tentara yang pro-PKI. Ini karena Letkol Untung Syamsuri (Komandan Pasukan Cakrabhirawa), pernah menjadi komandan kompi di batalion tersebut.

Di awal tahun 1965, Kabupaten Boyolali juga dikenal sebagai daerah basis massa PKI. Terbukti dalam Pemilu 1955 dan seterusnya, PKI menjadi partai favorit dan meraih kemenangan besar disana.

Akhirnya, proses hilangnya sosok DN Aidit dari lingkungan masyarakat Indonesia pada 1965 silam hingga kini memang sengaja tak pernah diungkap secara jelas. Tapi dengan tak pernah dihadirkannya DN Aidit di muka persidangan, misteri tragedi malam G30-S/PKI tetap jadi misteri dengan banyak versi dan spekulasi yang tak berkesudahan. Source