“Konspirasi” ex-Jenderal, GOLKAR, PDIP & Demokrat akan Usung ‘Jokowi-Gita’ di 2014?


Jokowi dan Gita


Gita Dan Jokowi Ditimang-timang Di Wisma Bakrie
Jenderal Luhut Undang Makan Kastorius
Minggu, 02 Juni 2013 , 09:32:00 WIB

RMOL. Bocoran terkait sikap pensiunan jenderal kolega Aburizal Bakrie (Ical) di Golkar yang menjagokan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres diungkapkan petinggi Partai Demokrat. Ketua DPP Partai Demokrat, Kastorius Sinaga, yang membocorkan sikap Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Jenderal (Purn) Luhut Pandjaitan yang menjagokan Jokowi. Kasto menceritakan, pekan lalu dia diundang makan siang oleh Jenderal Luhut di Wisma Bakrie. Pertemuan itu terjadi setelah dimediasi oleh aktivis Malari, Hariman Siregar.

Awalnya Kasto bingung ketika diundang Luhut makan siang. Kasto berpikir Luhut tidak mungkin bicara bisnis dengannya, karena dirinya bukan pengusaha. “Jadi feeling saya pasti dia bicara berkaitan dengan Pilpres 2014,� kata Kastorius kepada Rakyat Merdeka. Dalam pertemuan yang berlangsung sejak pukul 13:00 hingga 15:00 WIB itu, Luhut bertanya kepada Kasto kenapa dirinya mendukung Gita. Kasto pun tangkas menjelaskan kelebihan-kelebihan Gita. Saat itu Luhut sama sekali tak menyinggung Aburizal Bakrie, jago capres partainya. Luhut malah membandingkan Gita dengan Jokowi.

Menurut Luhut Jokowi lebih berpeluang ketimbang Gita. Dari sisi popularitas saja, menurut Luhut, Gita tidak mampu samai Jokowi. Tapi Kasto tetap meyakini jago capresnya bisa menyamai Jokowi. Hanya butuh waktu untuk memoles popularitas Gita. Hanya saja, meski telah dijelaskan secara panjang lebar mengenai keunggulan Gita, Luhut tetap saja menjagokan Jokowi sebagai capres. “Dia (Luhut) lebih mendorong Jokowi yang hanya berdasar survei. Dia minta saya tinggalkan Gita. Tapi saya bilang saya dukung Jokowi juga pak karena dia pemimpin bersih, tapi secara global saya lebih percaya pada kemampuan Gita. Pak Luhut waktu itu menjawab kalau sudah begitu keyakinanmu, ya lanjutkan saja,� kata Kasto.

Kasto tidak terlalu kaget kalau Luhut mendukung Jokowi, karena memang sepengetahuannya mereka adalah sahabat. Kasto pun menganggap perbedaan pendapat soal calon pemimpin nasional adalah hal biasa. Hanya saja, Kasto lebih tertarik menduetkan Gita dengan Jokowi, tidak sebaliknya.

Luhut Pandjaitan yang coba dikonfirmasi mengenai cerita Kasto tersebut tidak mengangkat ponselnya. Pesan singkat yang dikirimkan kepadanya pun tidak dibalas. Sementara aktivis Malari, Hariman Siregar meampik kalau dirinya dianggap fasilitator pertemuan antara Kasto dengan Luhut. Namun dia mengaku kalau cukup kenal dengan keduanya.�Tapi kalau soal pertemuan itu nggak tahu saya,� tambah dia.http://www.rmol.co/read/2013/06/02/112938/Gita-Dan-Jokowi-Ditimang-timang-Di-Wisma-Bakrie-

Gita Wirjawan dan Jokowi Jadi Perhatian Kubu Luhut Panjaitan
Luhut Panjaitan mengundang Kastorius makan siang.
Minggu, 2 Juni 2013 21:12 WIB


Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan

JAKARTA, Jaringnews.com - Belakangan, setelah beberapa kali kerap tampil bersama, wacana untuk menduetkan Gita Wirjawan-Joko Widodo sebagai capres-cawapres di Pilpres 2014 terus mengemuka. Tak kurang Jenderal TNI (purn) Luhut Panjaitan mulai menaruh perhatian serius kepada duo Menteri Perdagangan dan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Adalah Ketua DPP Kastorius Sinaga, yang mengungkapkan bahwa Luhut memperhatikan dua orang tersebut, terutama Jokowi. Padahal, Luhut diketahui merupakan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, serta salah satu tangki pemikir untuk pemenangan capres Aburizal Bakrie.

Kastorius mengungkapkan, Jumat (31/5) lalu, ia berkunjung ke Wisma Bakrie, Jakarta, untuk memenuhi undangan makan siang dari Luhut. Sejak undangan itu Kastorius terima, ia sudah menduga pertemuan itu akan membicarakan tentang Pilres 2014. Dalam pertemuan yang berlangsung pukul 13.00 hingga 15.00 WIB itu, Luhut mempertanyakan alasan Kastorius memberikan dukungan penuh kepada Gita. Seperti diketahui, Kastorius merupakan salah satu pihak yang vokal mendengungkan duet Gita-Jokowi di Pilpres 2014. Tentu saja, Kastorius dengan panjang lebar membeberkan kelebihan-kelebihan jagoannya tersebut. "Tapi menurut Luhut, Jokowi lebih berpeluang menjadi presiden ketimbang Gita, ini dilihat dari aspek popularitas yang menurut dia Gita tidak mampu menyamai Jokowi," ujar Kastorius kepada Jaringnews.com di Jakarta, beberapa waktu lalu. "Tapi saya tetap meyakini Gita bisa menyamai popularitas Jokowi, ini hanya masalah waktu, untuk memoles popularitas Gita menjadi lebih baik lagi," sambung Kastorius.

Kastorius menambahkan, meski telah dijelaskan panjang lebar mengenai keunggulan seorang Gita Wirjawan, Luhut tetap menjagokan Jokowi menjadi capres. Bahkan, dalam kesempatan itu, Kastorius mengaku diminta Luhut untuk meninggalkan Gita dan mendukung Jokowi. "Saya bilang saya dukung Jokowi juga karena Jokowi pemimpin bersih, tapi secara global saya lebih percaya kemampuan Gita Wirjawan. Pak Luhut hanya mengatakan, kala memang itu keyakinanmu, ya lanjutkan saja (mendukung Gita)," beber Kastorius.

Kastorius mengaku tidak terlalu kaget mengetahui Luhut mendukung Jokowi. "Setahu saya mereka bersahabat," ujar dia. Namun, yang membuatnya heran, pertemuan tersebut sama sekali tidak membicarakan Aburizal Bakrie, capres yang disokong Golkar. "Selama pertemuan, Pak Luhut malah membandingkan Gita dengan Jokowi," tutup Kastorius.
http://jaringnews.com/politik-perist...uhut-panjaitan


Kebetulan?

PDI P-Demokrat Koalisi Di Pemilu 2014?
Selasa, 09 Apr 2013 - 20.45 WIB

Jakarta - Politisi senior PDI P, Taufik Kiemas mengusulkan agar di tahun 2014 baik PDI P dan Partai Demokrat bisa sejalan dalam berpolitik. Hal ini disampaikan Taufik Kiemas ketika ditanya apakah peluang Demokrat dan PDI P bisa berkoalisi di pemilu 2014. "Harus, kemungkinan terjadi besar," celetuk Taufik di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (09/04/2013).

Pria yang akrab disapa TK ini pun mencontohkan pada saat tahun 2004-2009 Demokrat bisa melakukan koalisi dengan Golkar yang akhirnya mengusung SBY-JK menjadi Presiden dan Wakil Presiden kala itu.

Untuk itu Ketua MPR ini berharap agar PDI P dan Demokrat bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Golkar saat itu. "Dengan Golkar pun besar dan selaras dan hasilnya bisa kita lihat Indonesia lebih tenang," cetus suami Ketum PDI P ini.
http://www.centroone.com/news/2013/0...i-pemilu-2014/

Golkar : Bisa Saja Jokowi Cawapres ARB
Jum'at, 31 Mei 2013

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo berpendapat tidak menutup kemungkinan Calon Presiden (Capres) dari Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) menggaet Gubernur DKI Jakarta Jokowi sebagai calon wakil Presiden (Cawapres) pada Pilpres 2014 nanti. "Politik itu tidak hitam-putih. Kalau ada probability memungkinkan bisa saja. Jadi tidak menutup kemungkinan ARB-Jokowi di Pilpres nanti," kata Firman di gedung DPR RI Jakarta, Jumat (31/5/2013).

Menurut dia sosok Jokowi pelengkap bagi ARB dan memiliki garis ideologi sama. "Antara Golkar dan PDIP (partai Jokowi) memiliki ideologi sama yang bukan partai berbasis agama," kata Firman. Menurut dia, PDIP akan berhitung dan melihat realitas politiknya nanti apakah Jokowi bisa diusung partai itu untuk jadi Capres atau Cawapres koalisi dengan partai lain seperti Golkar.
"PDIP akan berhitung kalau Jokowi bemanfaat bagi PDIP terutama jika dijadikan Cawapres partai lain dan kemungkinan besar serta cocok dengan partai koalisi lain maka kenapa tidak?" ujarnya. Menurut dia seorang Cawapres memang pada dasarnya harus memberi daya dukung yang bagus bagi Capres. "Untuk memimpin negara ini maka dibutuhkan kapabilitas, kompetensi, dan sebagainya. Bukan calon pemimpin yang instan begitu saja," kata dia.
http://id.berita.yahoo.com/golkar-bi...065809773.html

Gita Wirjawan Diklaim Setara Jokowi di 2014
Minggu, 26 Mei 2013 | 13:47

Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wiryawan diduga akan menjadi calon presiden (capres) kuat usungan Partai Demokrat (PD) pada 2014 untuk bersaing dengan Jokowi yang kemungkinan besar akan diusung PDI Perjuangan. "Ini membuktikan, muka-muka lama akan tergantikan wajah-wajah baru," tegas Board of Advisor CSIS Jeffrie Geovannie, di Jakarta, Minggu (26/5).

Dia menilai Ketua Umum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan berani menampilkan capres muda melalui ajang konvensi capres partainya. "Lewat konvensi capres, Gita Wirjawan salah satunya calon terkuat. Dugaan saya, Megawati pun akan iklas melepaskan tiket pencapresan PDIP pada Jokowi yang semakin melejit elektabilitasnya saat ini. Dengan dua kandidat capres wajah baru tersebut, masyarakat Indonesia akan mengabaikan wajah-wajah lama," kata Jeffrie.

Dia melanjutkan, elektabilitas partai-partai yang mengusung capres muda itu akan meningkat drastis di pemilu mendatang. Sementara itu, Peneliti Politik Endang Tirtana mengatakan, di pemilu mendatang, rakyat seharusnya jangan salah pilih lagi dan harus selalu melakukan kontrol terhadap calon-calon yang akan dipilih. "Di sisi lain, jika ingin kembali memenangkan hati masyarakat, Parpol harus melakukan gerakan pembersihan diri," kata Endang. Endang mendesak masyarakat proaktif memantau kinerja seluruh institusi politik, tidak hanya Parpol, tapi juga Pemerintah baik itu eksekutif, yudikatif, dan legislatif.
http://www.beritasatu.com/politik/11...i-di-2014.html

Kiemas usul koalisi PDIP – Golkar atau Demokrat
Selasa, 9/4/2013.

Politikus senior PDIP Taufiq Kiemas meyakini di Pilpres 2014 nanti tidak ada parpol yang mengusung capres sendirian. Taufiq membuka pintu koalisi PDIP dengan Golkar dan PD. "Harus ada kemungkinan karena PDIP dan PD sama-sama partai besar. Dengan Golkar juga bisa," kata Taufiq kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/4/2013).

Dengan koalisi tersebut, menurut Taufiq, dua partai bisa berbagi kursi capres dan cawapres. Misalnya Golkar mencapreskan Ical maka PDIP mempersiapkan cawapres. Demikian juga dengan PD. "Bisa saja sama-sama mengusung presiden dan wapres karena di Indonesia ini minimal 2 partai yang bersatu, kan aturannya di atas 20 persen (Presidential Threshold)," katanya.
Lalu siapa yang akan diusung PDIP menjadi capres/cawapres? Terkait hal ini Taufiq memilih bungkam. Padahal sebelumnya Taufiq sangat intens mendorong putrinya, Puan Maharani, menjadi salah satu jagoan di Pilpres 2014. "Itu yang menentukan Ibu Mega," kilahnya sembari tersenyum.
http://kabarpolitik.com/2013/04/09/k...atau-demokrat/


SURVEI PEMILU 2014 Perempuan melintas di depan paparan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di Kantor LSI, Minggu (17/3). LSI mengungkapkan, ada tiga kemungkinan koalisi yang akan bertarung pada Pemilu 2014, serta ada tiga kandidat capres terkuat yaitu Megawati Soekarnoputri, Aburizal Bakrie, dan Prabowo Subianto. (SURVEI PEMILU 2014 Perempuan melintas di depan paparan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di Kantor LSI, Minggu (17/3). LSI mengungkapkan, ada tiga kemungkinan koalisi yang akan bertarung pada Pemilu 2014, serta ada tiga kandidat capres terkuat yaitu Megawati Soekarnoputri, Aburizal Bakrie, dan Prabowo Subianto. )

Tiga Koalisi Besar Pilpres 2014
Senin, 18 Mar 2013 10:53 WIB

MedanBisnis – Jakarta. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengungkapkan, ada tiga kemungkinan koalisi yang akan bertarung pada Pemilu 2014. Golkar dengan koalisinya, PDIP dengan koalisinya, dan Demokrat-Gerindra dengan koalisinya. "Dengan asumsi suara di atas 20%, Golkar mampu mengusung capresnya sendiri dan leluasa mencari partai koalisi atau mengajukan capres sendiri," kata peneliti LSI Adjie Alfaraby dalam jumpa pers, di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta, Minggu (17/3).

Sedangkan PDIP dan Demokrat, lanjut Adjie, harus melakukan hitung-hitungan untuk menentukan koalisi dan pencalonan capres yang akan diusung. "Ada aturan dan syarat-syarat pencapresan dalam undang-undang pemilu kedua, yaitu suara riil partai politik saat pemilu," ujarnya. Berdasarkan pada Pemilu 2009 calon presiden (capres) diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang memenuhi persyaratan minimal 20% kursi DPR, atau memperoleh 25% suara sah nasional. Tiga koalisi partai besar dalam pilpres tersebut, yaitu koalisi PDIP-Gerindra yang mengusulkan Mega-Prabowo, koalisi Demokrat dan lainnya yang mengusung SBY-Budiono, dan Golkar dengan koalisinya yang mengusung JK-Wiranto.

Adjie melanjutkan, pada 2014 juga akan ada tiga koalisi besar sama halnya 2009. Yaitu Golkar dengan koalisinya, PDIP dengan koalisinya, dan Demokrat-Gerindra dengan koalisinya. Adapun tiga kandidat capres dan cawapres pada Pemilu 2014 berdasarkan survei, yaitu Aburizal Bakrie-Joko Widodo (Jokowi), Megawati-JK, dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Berdasarkan survei LSI, elektabilitas Megawati dan Aburizal Bakrie (Ical) unggul tipis atas capres Gerindra, Prabowo Subianto. Mega menjadi capres paling dipilih responden dengan perolehan 20,7%, (Ical) 20,3% dan Prabowo 19,2%. Survei dilakukan LSI pada 1-8 Maret 2013. Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan wawancara tatap muka dengan 1.200 orang responden. Margin of error 2,9 persen.

Menurut LSI, pasangan Ical-Jokowi paling potensial memenangkan Pilpres 2014, bahkan bisa menumbangkan pasangan Mega-JK maupun Prabowo-Hatta. Simulasi yang dilakukan LSI menunjukkan pasangan Ical-Jokowi disimpulkan didukung 36%, Mega-JK 22,9%, Prabowo-Hatta 10,1%. Sedangkan responden yang belum memutuskan pilihan 31%. "Simulasi di sini hanya menempatkan ketua struktural partai sebagai capres, digabungkan dengan persentase elektabilitas partai, juga berita di media mengenai bursa capres dan cawapres," kata Adjie.

Dia memprediksi tak akan ada koalisi Golkar-PD di Pilpres mendatang. Sementara koalisi PD-PDIP juga sulit terwujud karena kurang harmonisnya hubungan Megawati dengan SBY. Sampai saat ini komunikasi politik terkuat terjadi pada Prabowo-Hatta. Tapi, tak tertutup kemungkinan bahwa SBY melirik Prabowo sebagai calon terkuat koalisi, jika SBY ingin menjaga "trah" militer, Prabowo pilihan terbaik saat ini, maka Hatta bergabung dalam koalisi Demokrat-Gerindra," katanya.

Hitung-hitungan LSI memang Ical-Jokowi bisa menjadi kandidat capres paling top. Namun tentu langkah Jokowi ke Pilpres 2014 sangat bergantung restu Megawati. "Kalau Jokowi sebagai cawapres Ical, itu hanya jika beliau bersedia. Calon terkuat lain menjadi cawapres Ical, adalah Mahfud MD," katanya. Buka Peluang Terkait hasil survei LSI itu, Golkar pun mengkaji kemungkinan menduetkan Ical-Jokowi di Pilpres 2014. "Apakah Jokowi ada kemungkinan dipasangkan dengan capres ARB, dapat saya tegaskan bahwa kemungkinan itu ada dan terbuka," kata Ketua DPP Golkar, Hajriyanto Y Tohari. Ia menjelaskan, Rapimnas Golkar akan membahas siapa saja cawapres yang pantas mendampingi Ical.
http://www.medanbisnisdaily.com/news.../#.UawRbNJSjTo

Golkar-Demokrat Berebut Koalisi PDI Perjuangan

02-01-2013

JAKARTA – Partai Golkar dan Partai Demokrat tampaknya akan berkompetisi agar bisa menggandeng PDI Perjuangan. Baik Golkar maupun Demokrat sudah memberi sinyal. “Golkar dan PDI Perjuangan terbuka untuk berkoalisi. Apalagi dengan hadirnya Bung Taufiq. Karena itu, Golkar siap membuka peluang untuk berkoalisi dengan PDI Perjuangan,� kata Wakil Ketua Umum PG, Theo L Sambuaga di Jakarta, Selasa (1/1).

Lebih jauh kata Theo, koalisi itu tentunya harus disertai komunikasi yang intensif antar pimpinan partai. Sehingga ada kesamaan visi. “Golkar dan PDI Perjuangan terbuka untuk berkoalisi. Apalagi dengan hadirnya Bung Taufiq. Tentu nanti akan hadir koalisi antar partai nasionalis. Tapi kalau ke pilpres belumlah,� tambahnya.

Meski kini PG berada dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) pendukung pemerintah di bawah Partai Demokrat, soal 2014 terbuka peluang berkoaliasi dengan PDI Perjuangan. “Tidak ada masalah kalau Golkar koalisi dengan PDI Perjuangan,� ujar Theo.Persaingan politik pada pemilu 2014 bakal berlangsung ketat. “Semua parpol akan bersaing dalam pemilu 2014. Kalau hasil pemilu sudah diketahui, bukan mustahil Golkar koalisi dengan PDI Perjuangan di pilpres,� tegasnya. Sementara Marzuki Alie dari Demokrat mengatakan pula, bukan tidak mungkin pada Pemilu 2014 mendatang PDI Perjuangan berkoalisi dengan Partai Demokrat. “Bukan tidak mungkin PDI Perjuangan dan Partai Demokrat berkoalisim� tegasnya. Marzuki mengatakan, partainya selalu membuka pintu untuk koalisi dengan PDI Perjuangan, terlebih dengan alasan kepentingan bangsa dan negara. “Semuanya, Demokrat itu selalu membuka pintu,� tambahnya.
http://www.koranmadura.com/2013/01/0...di-perjuangan/

--------------------------



Kalau Golkar, Demokrat dan PDIP akhirnya koalisi untuk Pemilu dan Pilpres 2014, jelas aja mereka akan menang besar. Apalagi kalau Jokowi dan Gita berhasil mereka pasangkan untuk pasangan Pilpres 2014. Golkar dan Ical memang kayaknya akan mengalah, tidak masuk ke bursa Capres dan cawapres. Tetapi tentunya Golkar tidak mau rugilah, pastilah dealnya itu, bila Jokowi dan Gita berhasil memenangii Pilpres 2014, Golkar "hanya" minta jatah untuk "perdana menteri" di pos kabinet Jokowi-Gita itu kelak. Setidaknya, jatah menteri-menteri basah (seperti kementerian Keuangan, BUMN, Pertanian dan ESDM), akan mereka minta terang-terangan.

Golkar memang tak pernah bermimpi kalau orangnya akan menjadi Presiden atau Wapres. Manuver seorang Ical sebagai capres tunggal dari Golkar, sebenarnya tak lebih untuk menaikkan 'bergaining position' Golkar semata dimata parpol pesaingnya menjelang 2014 itu. Dikasih menteri dan mereka tetap berkuasa di dalam Pemerintahan yad saja, mereka sudah puas kok! Bagi Golkar, pasangan Jokowi-Gita pasti laku di jual ke dunia internasional, dan tak akan banyak resistensi dari negara asing seperti halnya Ical, Prabowo dan Wiranto akibat 'track record'nya di masa lalu. Intinya, Jokowi-Gita pastilah disambut baik investor asing, AS, Jepang, China dan Singapore serta Australia. jadi aman-aman saja kelak kalau emreka memimpin NKRI.

Bagaimana nasib Prabowo dan Wiranto? Meski didukung mesin politik yang baik, Prabowo tak akan mampu menghadapi koalisi Golkar-Demokrat dan PDIP. Juga Wiranto, meski didukung media massa dan duit yang besar dari Hary Tanoe, tak akan mampulah menghadapi gabungan itu. Bahkan ada yang menduga, NasDem dengan perhitungan untung-ruginya sendiri, diduga kuat akan masuk bergabung pula di koalisi 3 besar itu. Lalu bijimana dengan nasib parpol Islam seperti PKS dan PPP serta PKB? Jelas tenggelamlah! Kecuali mereka mau bergabung menjadi koalisi parpol Islam semata!, dengan membawa satu nama seperti MASYUMI dulu ditahun 1950-an.