Dukung Kopassus atau Dukung Preman?

Sekitar pukul 10.00 WIB, Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, 20 Juni, menggelar sidang kasus penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Cebongan yang dilakukan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Grup-2, Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, Jawa-Tengah.Penyerangan itu dilakukan sebagai bentuk jiwa Korps Satuan (Korsa) Kopassus dimana rekan mereka dibunuh secara biadab dan tidak manusiawi Hugos Café oleh preman asal NTT.

Ketua Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta Letkol (CHK) Faridah Faisal mengatakan, sidang akan digelar di dua ruang sidang. Karena berkas perkara displit (dipisah-berkas kasus) menjadi empat. Pada sidang perdana, Pengadilan Militer (Dilmil) II-11 Yogyakarta, mengagendakan pembacaan dakwaan oleh Oditur Militer dari Otmil (Oditurat Militer) Yogyakarta.Ke-12 anggota Kopassus yang diadili di Yogyakarta itu, mulai 19 Juni, sudah ditahan di Denpom IV/2 Yogyakarta setelah sebelumnya menjalani penahanan di Denpom IV/5 Semarang.

Ke-12 tersangka itu berkasnya dipisah menjadi empat. Satu berkas dengan tersangka Serda Ucok Tigor Simbolon dan Serda Sugeng Sumaryanto serta Kopda Kodik yang dijerat dengan pasal 340 KUHP, pasal 338 KUHP dan pasal 351 KUHP serta pasal 103 KUHPM (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer).

Sedangkan tersangka Sertu Tri Juwanto, Sertu Anjar Rahmanto, Sertu Martinus Roberto, Sertu Suprapto dan Sertu Herman Siswoyo akan dikenakan pasal 340 KUHP, 338 KUHP, 351 KUHP, dan pasal 170 KUHP.Adapun tersangka Ikhnawan Suprapto akan dikenai pasal 340 KUHP, 338 KUHP dan 351 KUHP. Tersangka Serma Rokhmadi dan Serma Muhammad Zaenuri serta Serma Sutar akan dikenai pasal 121 KUHPM.
Para tersangka mengenakan pakaian dinas dan dikawal mobil militer ketika tiba di pengadilan. Menurut Kepala Divisi Humas Oditur Militer 2-11 Yogyakarta, Mayor Chk Syaiful, empat berkas persidangan itu akan dilakukan dalam dua ruang sidang.
Pada berkas pertama, terdiri dari Sersan Dua Ucok Tigor Simbolon, Sersan Dua Sugeng Sumaryanto, dan Kopral Satu Kodik. Mereka terkena dakwaan primer Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jo Pasal 55 (1) ke-1 KUHP.Sementara untuk dakwaan subsider, keduanya dikenakan Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 (1) ke-1 KUHP. Lebih subsider mereka dijerat dengan Pasal 351 (1) jo ayat (3) KUHP jo Pasal 55 (1) ke-1 KUHP dan Pasal 103 ayat (1) jo ayat (3) ke-3 KUHP Militer.

Sedangkan berkas kedua terdiri dari Sersan Satu Tri Juwanto, Sersan Satu Anjar Rahmanto, Sersan Satu Marthinus Roberto Paulus, Sersan Satu Herman Siswoyo, dan Sersan Satu Suprapto. Mereka dijerat pasal primer 340 KUHP jo Pasal 56 ke-1 KUHP. Dakwaan subsider Pasal 338 KUHP jo Pasal 56 ke-1 KUHP. Dakwaan lebih subsider dijerat dengan Pasal 351 (1) jo ayat (3) KUHP jo Pasal 56 ke-1 KUHP dan kedua Pasal 170 (1) KUHP.

Untuk berkas ketiga yakni Sersan Dua Ikhmawan Suprapto dijerat Pasal 340 KUHP jo Pasal 56 ke-2 KUHP. Ikhmawan juga mendapat subsider Pasal 338 KUHP jo Pasal 56 ke-2 KUHP dan lebih subsider Pasal 351 (1) jo ayat (3) KUHP jo Pasal 56 ke-2 KUHP. Berkas keempat terdiri dari Sersan Mayor Rokhmadi, Sersan Mayor Muhammad Zaenuri, dan Sersan Kepala Sutar. Mereka dijerat Pasal 121 ayat (1) KUHP Militer jo 55 (1) ke-1 KUHP.

Dalam pasal 340 KUHP mengatur tentang pembunuhan berencana dan Pasal 338 tentang pembunuhan. Sementara pasal 351 mengatur tentang penganiayaan dan Pasal 103 KUHP Militer tentang perbuatan tidak mentaati perintah atasan.
Ke-12 tersangka anggota Kopassus merupakan tersangka penembakan empat tahanan titipan Polda DIY di LP Kelas IIB Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 23 Maret lalu.
Empat tahanan yang merupakan Preman asal NTT itu adalah Adrianus Candra Galaja alias Dedy (24), Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu alias Adi (33), Yohanis Juan Manbait alias Bripka Juan (37), dan Hendrik Sahetapy alias Deky (38).
Saat persidangan perdana, pada 19 Juni, ratusan orang pendukung 12 terdakwa anggota Kopassus dari FKPPI, Pemuda Pancasila, Paksi Katon, dan Banser mendominasi suasana persidangan dengan menggelar aksi sebelum sidang berlangsung. Bahkan, saat Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila keluar dari ruang sidang, sejumlah orang berseragam Pemuda Pancasila mencecar Laila dengan pertanyaan dan hujatan. Mereka menuding rekomendasi yang dikeluarkan Komnas HAM soal kasus Cebongan adalah pesanan asing. Komnas HAM pun dicap sebagai pengkhianat.
Memang Komnas HAM selama ini dianggap sebagai biang kerok. Karena lembaga yang dibiayai asing ini kerap mencecar TNI ketika TNI melakukan sedikit kesalahan, sementara bila TNI ditembak separatis di Papua, Komnas HAM diam saja tutup telinga. Hal inilah yang membuat masyarakat geram akan kehadiran Komnas HAM yang berkiblat ke asing itu.

Meski ada teriakan dari para pendukung Kopassus, Kepala Pengadilan Militer Utama Laksamana Muda AR Tampubolon menganggap tindakan massa itu tidak masalah, karena ada diluar persidangan dan secara psikologis sangat memahami perasaan mereka.
Jadi, melihat persidangan itu telah membuktikan bahwa Kopassus memiliki jiwa kesatria. Tinggal masyarakat yang menilai jalannya persidangan. Apakah kita mendukung premanisme di negeri ini atau kita dukung Kopassus yang memberantas preman???